Nobar “Pesta Babi” di UNISKA Banjarmasin Diserbu Penonton, Diskusi Papua Jadi Sorotan

oleh
oleh
Lapangan utama Kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB dipenuhi ratusan warga, mahasiswa, hingga aktivis pada Kamis malam (14/5/2026). (Foto: Kalselmaju.com)
Spread the love

KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Ratusan warga, mahasiswa, hingga aktivis memadati lapangan utama Kampus Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) MAB Banjarmasin, Kamis malam (14/5/2026). Mereka mengikuti nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film dokumenter Pesta Babi yang belakangan ramai jadi perbincangan di media sosial.

Kegiatan terbuka untuk umum tersebut digelar Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UNISKA MAB dengan mengusung tema “Kolonialisme di Zaman Kita”. Antusiasme penonton terlihat sejak malam tiba. Mereka duduk lesehan memenuhi area lapangan sambil menyaksikan film melalui tiga layar proyektor besar yang terpasang.

Film dokumenter itu mengangkat isu eksploitasi sumber daya alam di Papua dan menyoroti dampaknya terhadap masyarakat adat.

Salah seorang penonton, Putri, mengaku tertarik hadir karena film tersebut ramai jadi pembahasan publik.

“Menurut saya ini menambah wawasan. Kita jadi tahu bagaimana kondisi di Papua dari sudut pandang yang jarang terbahas,” ujarnya.

Ia menilai konsep nobar yang dilanjutkan dengan diskusi terbuka menjadi ruang yang menarik bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bertukar pandangan.

“Jadi bukan cuma menonton, tapi juga memahami persoalan dari berbagai perspektif,” katanya.

Hal serupa Ryan, pegawai swasta yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, film dokumenter seperti Pesta Babi membuka sudut pandang baru mengenai persoalan di Papua.

“Setidaknya masyarakat jadi tahu ada banyak isu di Papua yang selama ini jarang terperhatikan,” ucapnya.

Ryan juga mengapresiasi suasana acara yang tetap tertib meski jumlah penonton membludak.

“Yang datang banyak, tapi tetap aman dan kondusif,” tambahnya.

Diskusi Seputar Papua Jadi Bahasan

Usai pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka. Salah satu pemantik diskusi, Bung Paul, menyampaikan pandangannya sebagai orang asli Papua.

“Ketika kita menyaksikan dokumenter ‘Pesta Babi’, saya ingin berbicara dari perspektif orang Papua, bukan hanya tentang Papua tetapi juga tentang kita sebagai orang Indonesia,” ujarnya.

Menurut Paul, hutan bagi masyarakat Papua bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian penting dari identitas dan kehidupan adat.

“Kehidupan orang Papua sangat dekat dengan hutan. Hutan kami anggap sebagai ‘mama’ karena menjadi sumber kehidupan, tempat tradisi, dan ruang yang keramat,” katanya.

Ia menegaskan pengelolaan hutan di Papua tidak bisa dipandang semata-mata dari sisi ekonomi.

“Bagi masyarakat adat, setiap aktivitas di hutan harus melalui tradisi dan penghormatan terhadap nilai budaya,” lanjutnya.

Paul juga menyoroti keresahan masyarakat adat yang merasa kehilangan ruang hidup akibat eksploitasi sumber daya alam.

“Yang sangat sayang adalah ketika sumber kehidupan masyarakat adat perlahan hilang,” tutupnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today