KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby berhasil membawa Kota Idaman meraih predikat terbaik pertama penanganan stunting dan kemiskinan. Meraih penghargaan terbaik kategori Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting.
Kelompok kota regional Kalimantan dalam ajang Apresiasi Kinerja Pemerintah Daerah Berprestasi 2026. Lisa Haaby menerima penghargaan tersebut dari Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian di Platinum Hotel & Convention Hall baru tadi.
Apresiasi ini sebagai bentuk pengakuan atas kinerja Banjarbaru yang dapat penilaian unggul. Dalam mengintegrasikan program pengentasan kemiskinan dan percepatan penurunan stunting.
Ajang ini menjadi tolok ukur kinerja pemerintah daerah dengan penilaian berbasis indikator ketat, mulai dari sinergi lintas sektor, capaian layanan hingga tingkat kelurahan, efektivitas intervensi, hingga tren penurunan indikator utama. Inovasi daerah turut menjadi faktor penting dalam menentukan hasil penilaian.
“Kompetisi sehat antar daerah guna mendorong lahirnya inovasi dan peningkatan kinerja pemerintah merupakan suatu yang sangat penting,” tegas Menteri Tito.
Sebanyak 24 pemerintah daerah menerima penghargaan dalam forum tersebut. Selain bentuk apresiasi, pemerintah pusat juga memberikan insentif fiskal.
Untuk kategori yang diraih Banjarbaru, dialokasikan dana sebesar Rp3 miliar bagi peringkat pertama sebagai stimulus penguatan program ke depan.
Raihan Predikat Terbaik Atas Kerja Kolaboratif
Keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif yang terencana. Dalam penanganan stunting, Pemko Banjarbaru menggelar Pra Musrenbang Tematik Stunting 2026 dengan melibatkan puluhan pemangku kepentingan, mulai dari SKPD, camat, lurah, tenaga kesehatan hingga kader masyarakat.
Forum tersebut menjadi wadah penyelarasan data serta penyusunan intervensi yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini menegaskan bahwa penanganan stunting secara komprehensif sebagai isu multidimensi, tidak hanya dari sisi kesehatan.
Salah satu inovasi yang berjalan adalah program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang mendorong keterlibatan berbagai pihak sebagai orang tua asuh bagi anak-anak berisiko stunting agar intervensi gizi berjalan berkelanjutan.
Selain itu, upaya penanggulangan kemiskinan juga dilakukan dengan pendekatan berbasis data untuk memastikan bantuan dan program benar-benar menjangkau kelompok paling rentan.
“Capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat Banjarbaru,” sahut Wali Kota Banharbaru, Lisa Halaby.
“Tentu ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan, khususnya dalam memastikan anak-anak tumbuh sehat dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” tandas Lisa. (Adv banjarbaru)





