KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Ketersediaan bahan pangan di Kota Banjarbaru sepanjang Oktober 2026 terpantau mencukupi. Bahkan sejumlah komoditas mencatatkan surplus dibandingkan kebutuhan bulanan. Meski demikian, Pemerintah Kota Banjarbaru tetap menyiapkan langkah untuk menjaga kestabilan harga sekaligus memperluas pemasaran hasil pertanian lokal.
Upaya tersebut menjadi perhatian Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Kios Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3).
Dalam peninjauan itu, Lisa mengecek langsung ketersediaan dan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti beras, gula konsumsi, minyak goreng, serta telur ayam. Ia juga melihat penjualan beras lokal yang dihasilkan petani Kecamatan Cempaka.
Lisa menegaskan, harus mengimbangi ketersediaan stok bahan pangan di Banjarbaru dengan harga yang terjangkau dan distribusi yang berjalan baik. Dengan demikian, masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa terbebani kenaikan harga.
“Ketahanan pangan bukan hanya tentang memastikan stok tersedia, tetapi juga bagaimana masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Kita ingin memastikan piring makan masyarakat tetap terjaga,” tegasnya.
Berdasarkan data stok dan pasokan pada September 2026, persediaan beras di Banjarbaru mencapai 1.829 ton atau surplus 422,44 ton dari kebutuhan bulanan.
Surplus juga tercatat pada komoditas lainnya. Gula konsumsi memiliki kelebihan pasokan sebesar 201,61 ton, minyak goreng 109,45 ton, dan telur ayam 87,02 ton.
Kondisi tersebut menunjukkan ketersediaan sejumlah bahan pokok relatif memadai. Namun, tetap memerlukan pemantauan untuk mengantisipasi perubahan harga maupun kendala distribusi yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.
Sarana Pemasaran Produk Lokal
Selain memastikan ketersediaan pangan, Pemko Banjarbaru juga berupaya menjadikan Kios Pangan DKP3 sebagai sarana pemasaran produk pertanian daerah.
Dalam sidak tersebut, beras lokal asal Kecamatan Cempaka tercatat tersedia sebanyak 100 kilogram dengan harga Rp23.000 per kilogram.
Menurut Lisa, perlu mengembangkan keberadaan produk lokal di kios pangan. Agar hasil panen petani Banjarbaru memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Saya ingin Kios Pangan DKP3 tidak hanya menjadi tempat penjualan bahan pokok, tetapi juga menjadi ruang bagi petani lokal untuk memasarkan hasil pertaniannya. Kita harus mendukung produk lokal agar petani memiliki akses pasar yang lebih baik dan ketahanan pangan daerah semakin kuat,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, DKP3 Banjarbaru merencanakan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah Bersubsidi untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
DKP3 juga akan melakukan pemantauan harga secara berkala serta menyusun kesepakatan bersama gabungan kelompok tani (Gapoktan) se-Kota Banjarbaru terkait pasokan produk pertanian ke kios pangan.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga kebutuhan pokok dapat terus terjaga. Pada saat bersamaan, keterlibatan petani lokal dalam rantai pasok pangan harapannya semakin meningkat sehingga memberikan manfaat bagi produsen maupun masyarakat sebagai konsumen.





