KALSELMAJU.COM, BANJARMASIN – Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin menggelar Lomba Desain Motif Sasirangan (LDMS) Tahun 2026 di Aula Rumah Kemasan Kota Banjarmasin, Minggu (17/5/2026).
Ajang tersebut mengusung tema “Melestarikan Budaya Maharagu Warisan Sasirangan di 500 Tahun Banjarmasin Maju Sejahtera”.
Berbagai karya motif sasirangan hasil kreasi peserta tampil dalam lomba tersebut. Peserta sudah mempersiapkan seluruh desain sejak satu bulan terakhir sesuai tema dari panitia.
Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin, Neli Listriani, mengatakan LDMS tahun ini hadir lebih spesial karena menghadirkan dua kategori sekaligus, yakni reguler dan best of the best.
“Kalau sebelumnya hanya reguler, sekarang ada kategori best of the best khusus para juara utama tahun-tahun sebelumnya. Jadi di momentum 500 tahun ini, kami ingin mencari karya terbaik dari yang terbaik,” ujarnya.
Menurut Neli, momentum 500 tahun Kota Banjarmasin menjadi kesempatan penting untuk menghadirkan inovasi baru dalam dunia sasirangan tanpa meninggalkan akar budaya Banjar.
“500 tahun bukan perjalanan singkat. Kami ingin motif sasirangan tahun ini lebih berkualitas dan lebih kuat karakternya, tetapi tetap tidak meninggalkan budaya asal munculnya sasirangan,” katanya.
Kategori Reguler untuk Hadirkan Inovasi
Selain itu, panitia juga membuka kategori reguler untuk memberikan ruang kepada para pengrajin baru agar berani menampilkan kreativitas dan inovasi mereka.
“Harapannya akan lahir motif-motif baru yang bisa memperkaya khasanah sasirangan Banjar,” tambahnya.
Dalam proses penilaian, peserta tidak hanya dari sisi estetika desain, tetapi juga kemampuan menjelaskan filosofi motif, pemilihan warna, hingga penempatan pola pada busana.
Untuk menjaga nilai budaya tetap kuat, panitia menghadirkan budayawan, ahli sejarah, dan desainer sebagai dewan juri.
“Peserta boleh berkreasi, tetapi tetap harus mengacu pada motif dasar sasirangan khas Banjar. Ada 13 motif dasar seperti gagatas, gigi haruan, dan lain-lain. Yang bisa dikolaborasikan dengan tema 500 tahun Kota Banjarmasin,” jelas Neli.
Ia menegaskan sasirangan bukan sekadar kain tradisional, melainkan memiliki nilai sejarah panjang dalam budaya Banjar.
“Dulu sasirangan berguna untuk pengobatan dan hanya bagi kalangan kesultanan. Sekarang semua masyarakat bisa memakainya, namun nilai budaya dan motif dasarnya jangan sampai hilang,” tutupnya.





