KALSELMAJU.COM, MARTAPURA – Kepolisian Resor (Polres) Banjar mencatat penurunan kasus narkotika sepanjang tahun 2025. Ini seiring dengan turunnya angka kriminalitas secara umum di wilayah Kabupaten Banjar.
Berdasarkan data tahunan Polres Banjar, total tindak pidana pada 2025 tercatat sebanyak 673 kasus. Jumlah tersebut menurun 12,26 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 767 kasus.
Kapolres Banjar AKBP Fadli menyampaikan penurunan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya kejahatan konvensional maupun kasus penyalahgunaan narkotika. Ia menyebut tren tersebut mencerminkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang semakin membaik.
“Secara keseluruhan, kondisi kamtibmas semakin membaik, termasuk pada kasus-kasus narkotika,” ujar AKBP Fadli dalam rilis akhir tahun, Rabu (31/12/2025).
Meski angka laporan cenderung menurun, Polres Banjar tetap meningkatkan intensitas pengungkapan jaringan peredaran narkoba. Sepanjang 2025, polisi berhasil mengungkap 156 kasus narkotika dengan total 187 tersangka.
Menurut Kapolres, jumlah pengungkapan tersebut meningkat 16,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, tren penurunan laporan di tingkat masyarakat menunjukkan efektivitas upaya preventif yang terus dilakukan.
“Peningkatan pengungkapan ini menunjukkan bahwa fokus kami tidak hanya menangkap pengguna, tetapi juga menindak tegas jaringan peredaran gelap narkotika,” tegasnya.
Selama 2025, Polres Banjar mengamankan sejumlah barang bukti narkotika, di antaranya sabu seberat 20.019 gram, 108,5 butir ekstasi, 650 butir psikotropika, 1.777 butir carnophen, serta 237 butir dextro.
Salah satu pengungkapan terbesar terjadi di Kecamatan Gambut. Di sana, petugas berhasil menyita lebih dari 19 kilogram sabu dari tangan para pelaku.
Penurunan kasus narkotika juga sejalan dengan membaiknya indikator keamanan wilayah. Risiko kriminalitas per seribu penduduk menurun dari 131 orang pada 2024 menjadi 115 orang pada 2025. Selain itu, selang waktu terjadinya tindak pidana juga membaik. Perubahan ini dari satu kejadian setiap 11 jam 25 menit menjadi satu kejadian setiap 13 jam 1 menit.
“Hasil ini tidak lepas dari kolaborasi masyarakat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari penyalahgunaan narkotika,” pungkas





