Fenomena Acil Odah dan Demokrasi Berkeadilan di Kalimantan Selatan

oleh
oleh
Hj. Raudatul Jannah atau Acil Odah (foto:net)

Konstelasi politik Kalimantan Selatan sudah mulai hangat. Beberapa nama sudah menyatakan diri bakal maju sebagai calon Gubernur. Sosok fenomenal baru datang dari kaum perempuan. Bagaimana kata Akademisi Politik Perempuan?

KALSELMAJU.COM – Belakangan Hj. Raudatul Jannah atau Acil Odah menjadi populer setelah namanya disebut siap berkontes pada konstelasi Pilgub 2024 kali ini.
Acil Odah sapaan akrab Raudatul Jannah, menjadi perempuan pertama yang muncul menjadi penantang baru dalam wacana pencalonan Pilkada ditingkat Provinsi Kalsel.
Ia tidak lain merupakan istri dari Gubernur Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor atau Paman Birin.
Potensi dan peluang elektabilitas Acil Odah terus mencuat, setelah ia menyatakan kesiapan jika diberi kepercayaan masyarakat Banua.
Hadirnya Acil Odah, oleh kelompok pemerhati perempuan dinilai menjadikan pesta demokrasi di Banua semakin berkeadilan. Lantaran Sejak era Pilkada langsung digulirkan pada tahun 2005 silam di Bumi Lambung Mangkurat belum ada perempuan yang terjun langsung dalam konstelasi pilgub.
Melihat fenomena ini, Kalselmaju.com mencoba meminta pendapat Akademisi Politik Perempuan yang juga Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Siti Mauliana Hairini, S.IP., M.A.
Dalam tulisannya yang masuk ke meja redaksi Kalselmaju.com, Siti Mauliana yang juga Direktur Aksara mengungkapkan tidak akan ada perempuan yang ideal untuk mengampu posisi kepemimpinan.
“Sebagaimana proyek penelitian yang dilakukan oleh para psikolog sosial (Anne Koenig, Alice Eagly, Abigail Mitchell, dan Tiina Ristikari, 2011) mengungkapkan bahwa para pemimpin masih dianggap lebih mirip laki-laki dibandingkan perempuan,” pungkasnya
Namun kata Siti, ada satu hal yang perlu dicermati, kemunculan perempuan dalam kontestasi kepala daerah tentu tidak sesederhana perjalanan para laki-laki.
“Terdapat korelasi antara kehadiran perempuan berlatar belakang keluarga elit politik dengan tingginya tingkat patriarki di masyarakat.”
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa, perempuan mengalami krisis jaringan elit politik dan juga sumber dana yang minim untuk bertarung di panggung politik. Sehingga perempuan hanya akan dapat terfasilisitasi pada jejaring yang kuat jika memiliki keluarga dari kalangan elit yang mau membuka dan mendorong untuk memasuki arena politik.
“Hal tersebut dikemukakan dalam laporan penelitian oleh king’s college London dan Westminster Foundation for Democracy yang mengumpulkan 500 penelitian akademik mengenai politik perempuan dan demokrasi tahun 2020,” ujar Siti.
Dan hari ini fenomena hadirnya Acil Odah sebagai satu-satunya perempuan sepanjang sejarah Pilkada Langsung di Kalimantan Selatan adalah peluang untuk menunjukkan bahwa demokrasi masih memiliki harapan terlepas dari tirani maskulin.
Sebagaimana perjalanan perempuan dalam dunia patriarki tentu memiliki pengalaman dan tubuh sebagaimana perempuan lainnya, sehingga berbagai penelitian akan relevan untuk menjawab seberapa mampu Acil Odah jika diberikan mandat kepemimpinan di Kalimantan Selatan.
Dalam Teori Kepemimpinan, ada berbagai bentuk gaya kepemimpinan dimana dalam beragam riset menunjukkan bahwa politisi laki-laki cenderung memiliki gaya Transaksional yaitu menekankan pada pertukaran penghargaan dan pengucilan pada bawahannya.
Sedangkan perempuan dikenal cenderung komunal yaitu berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan orang lain, sehingga disimpulkan kebanyakan perempuan menunjukkan memiliki gaya kepemimpinan transformasional yang berfokus pada penggunaan simbol dan emosional untuk menggerakkan pengikutnya.
Berbagai riset memberikan gambaran bagaimana perempuan akan memimpin dan kemungkinan keberhasilan kepemimpinan perempuan ditentukan pada kebutuhan masyarakat mengenai sosok pemimpin yang mampu memotivasi dan merangsang intelektual mereka untuk bergerak ataukah lebih menyenangi pemimpin yang berorientasi pada transaksi.
Agar menyegarkan ingatan, Siti menerangkan dibelahan Eropa yang mempunyai catatan sejarah seorang iron lady yaitu Margaret Thatcher.
“Beliau mendobrak revolusi perekonomian inggris, di ranah lokal kita juga punya seorang bupati perempuan yang kini menjadi salah satu acuan perempuan desa hadir menjadi aktor-aktor pengampu kebijakan publik, dan Pilkada 2024 nanti saya juga berharap kehadiran perempuan akan semakin massif dan menjadikan demokrasi semakin lebih berkeadilan.”
Sebagai bagian dari masyarakat Kalimantan Selatan sekaligus sebagai akademisi yang berfokus pada politik, “Saya berharap bahwa siapapun nantinya perempuan yang berkontestasi di Pilkada mampu menjadi penggerak bagi perempuan lainnya untuk berani hadir dalam berbagai ruang publik,” tutupnya.

*Penulis : Siti Mauliana
Disunting : Andra Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *