BPBD Sebut Karhutla Jadi Bencana Terbanyak di Tahun 2023, Terdata 900 Kali Kejadian

oleh
oleh

KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Berdasarkan Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan (Kalsel) sepanjang tahun 2023, Kebakaran Hutan dan Lahan ( Karhutla ) menjadi bencana terbanyak dibanding kejadian lainnya.

Tercatat, di Tahun 2023 ini ada 900 kali kejadian. Jika dibanding 2022 kejadian karhutla hanya 296 kali.

Bencana lainnya berdasar data terjadi kejadian Angin Puting Beliung selama 2022 sebanyak 176 dan 2023 menjadi 170 kejadian.

Sementara bencana Banjir, di 2022 terekam 124 kali, sedangkan Banjir di 2023 sementara, hingga desember ini masih 42 kejadian.

Adapun Longsor pada 2022 terjadi sebanyak 11 dan di 2023 naik menjadi 18.

Peranan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel dalan memitigasi bencana terbilang efektif. Sepanjang 2023, BPBD Kalsel telah terbentuk 36 Desa atau Kelurahan Tangguh Bencana di 13 Kabupaten Kota.

Desa Tangguh Bencana paling banyak terdapat di Tanbu sebanyak enam desa, disusul Tapin lima desa dan Tanah Laut empat desa.

Menurut Kepala BPBD Kalsel, R. Surya Fadliansyah, Jumat (29/12), pihaknya juga melaksanakan pembinaan di 8 desa kelurahan di Kabupaten Banjar, Tapin, Batola, HST, Tabalong, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin.

“Bukan hanya desanya yang kita bangun, tapi kita juga melatih 30 orang Fasilitator Desa yang nantinya bertugas di masing-masing untuk pendampingan pembentukan dan pengembangan Desa Tangguh Bencana itu. Jadi jika sewaktu ada bencana di desa itu mereka sudah siap otomatis,” kata Surya.

Program lainnya termasuk soal regulasi dan penetapan siaga yang dinilai cepat, bisa meminimalisir terjadinya korban bencana.

“Karena itu pula di 2023 ini, dari  indeks ketahanan daerah pada tahun 2023 meningkat yaitu di angka 0,46 naik 0,04 dari 0,42 pada tahun 2022, ini tidak lain dukungan dari semua pihak yang sigap menghadapi bencana, ” jelas Surya.

Sementara itu, Kasubbdid Pencegahan BPBD Kalsel, Ariansyah, mendetailkan soal data dan daerah rawan longsor sepanjang 2023 dan perbandingan di tahun sebelumnya.

Wilayah rawan bencana BPBD Kalsel ada 150 Kecamatan yang ada potensi Banjir dengan kategori resiko tinggi.

Adapun longsor, dua daerah di level waspada, kecuali Barito Kuala dan Banjarmasin tidak ada potensi tanah longsor.

“Area yang paling sering longsor ini terutama area pegunungan meratus,” Jelas Ariansyah.

Sedangkan daerah dengan gelombang  banjir rob, ada 5 kabupaten yang harus waspada, yakni kabupaten Barito Kuala Kabupaten Banjar yang berada di kecamatan Aluh-Aluh, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kota Baru,” kata dia.

Adapun rawan Karhutla, yang beresiko di wilayah ring 1 bandara meliputi empat kabupaten, yakni Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut Batola.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel,

Bambang D Mulyadi, menambahkan meski kejadian Banjir menurun, namun perlu di antisipasi termasuk pergantian tahun.

Dijelaskan dia, sejauh ini Pemprov Kalsel melalui BPBD dan Dinas PUPR sudah menambahkan Ada 22 unit Early Warning System (EWS) yang dipasang di sejumlah Kabupaten dengan potensi rawan banjir yang cukup tinggi.

“Jadi 11 EWS untuk mengukur tinggi muka air dan 11 sirine sehingga totak ada 22 EWS,” jelasnya.

Selain alat sudah ada Standar Operasioal prosedur (SOP) dan SUmber Daya Manusia (SDM) yang juga dilatih dan faham soal kebencanaan.

Saat ini Provinsi Kalsel mempunyai pendeteksi bencana banjir sejak dini yang dinamakan Early Warning System.  “Lokasinya tersebar di sembilan kabupaten kita kecuali, Batola, Banjarbaru dan Banjarmasin, ” urainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *