KALSELMAJU.COM, BANJARBARU – Menjawab aspirasi warga terkait bau menyengat di sepanjang aliran Sungai Kemuning, kawasan Kampung Pelangi. Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menginstruksikan Lurah Guntung Paikat Reza Pahlevi untuk menindaklanjuti laporan.
Bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru serta unsur masyarakat. Tim gabungan melakukan pemantauan langsung guna mengetahui kondisi sungai terutama saat musim kemarau.
Penyampaikan aspira sebelumnya melalui kolom komentar akun Instagram pribadi Wali Kota Banjarbaru. Warga berharap pemerintah segera mencari solusi atas bau tidak sedap yang mengganggu kenyamanan di sekitar bantaran sungai. Salah satu dugaannya adalah limbah dari aktivitas pabrik tahu.
Reza Pahlevi mengatakan hasil pemantauan menunjukkan debit air Sungai Kemuning mengalami penyusutan cukup signifikan akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut menyebabkan aliran air melambat sehingga material organik, lumpur, dan sampah yang menumpuk di sejumlah titik berpotensi menimbulkan bau tidak sedap.
“Menindaklanjuti arahan Wali Kota Banjarbaru Ibu Hj. Erna Lisa Halaby terkait laporan masyarakat mengenai bau di Sungai Kemuning, kami bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Kasi Ekobang, Ketua LPM, serta Koordinator RT/RW Kelurahan Guntung Paikat telah turun langsung melakukan pemantauan di lapangan,” kata Reza.
Selain kondisi air yang surut, pihaknya juga menerima informasi dari warga yang tinggal di bantaran sungai mengenai ditemukannya bangkai ikan di beberapa lokasi. Ikan sapu-sapu termasuk jenis ikan yang dilaporkan mati dan diduga turut menimbulkan bau amis.
“Kalau berdasarkan pantauan kami secara langsung dan informasi di lapangan dari warga sekitar bantaran sungai, memang baunya lebih seperti bau amis ikan. Banyak ikan sapu-sapu yang mati juga,” ujarnya.
Pertumbuhan alga hijau yang cukup banyak di sejumlah bagian sungai turut menjadi perhatian. Alga yang tumbuh berlebihan dan kemudian membusuk dapat memengaruhi kualitas air serta memicu timbulnya bau, terutama ketika debit air berkurang dan sirkulasi air tidak berjalan optimal.
Meski demikian, penyebab pasti bau menyengat tersebut masih belum dapat disimpulkan. Pemeriksaan lebih lanjut oleh instansi teknis diperlukan untuk memastikan apakah kondisi itu berkaitan dengan faktor alam, penumpukan material organik, atau kemungkinan adanya pencemaran.
Limbah Pabrik Tahu
Persoalan dugaan limbah pabrik tahu di aliran Sungai Kemuning sudah pernah menindaklanjutinya. Reza mengungkapkan, pada 18 Mei 2026, pihak kelurahan bersama DLH Kota Banjarbaru. Telah mendatangi lokasi pabrik tahu setelah menerima laporan dari warga bantaran sungai.
Saat peninjauan tersebut, pihaknya melihat kondisi air di sepanjang aliran sungai yang dugaannya berkaitan dengan limbah tahu. Namun, temuan dalam peninjauan sebelumnya itu belum bisa menjadi dasar untuk memastikan penyebab bau yang muncul saat ini.
Reza menjelaskan, lokasi pabrik dari laporan warga berada di wilayah kelurahan lain. Meski demikian, aliran sungai yang terhubung hingga Guntung Paikat membuat kondisi di bagian hulu berpotensi berdampak terhadap masyarakat di wilayahnya.
“Kami mengimbau agar tidak membuang limbah sembarangan karena sudah ada IPAL. Untuk teknis pengawasan menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup. Pabriknya pun bukan berada di wilayah kami, tetapi aliran sungainya sampai ke Guntung Paikat,” jelasnya.
Pihak kelurahan pun berkoordinasi dengan instansi terkait agar dapat menelusuri persoalan tersebut sesuai kewenangan masing-masing, termasuk dalam hal pengawasan terhadap dugaan pencemaran lingkungan.
Gotong Royong
Sebagai upaya awal menjaga kebersihan aliran sungai, Kelurahan Guntung Paikat menjadwalkan kegiatan gotong royong membersihkan Sungai Kemuning pada Jumat (9/10/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan. Aksi bersama ini harapannya dapat membantu mengurangi penumpukan sampah dan material yang berpotensi memperburuk kondisi sungai.
Reza menegaskan, penanganan tidak cukup hanya melalui pemantauan, tetapi juga memerlukan keterlibatan berbagai pihak agar kebersihan lingkungan di sekitar sungai dapat terjaga secara berkelanjutan.
“Sebagai tindak lanjut, selain melakukan pemantauan dan koordinasi dengan instansi terkait, kami juga akan melaksanakan gotong royong pada hari Jumat ini untuk membersihkan Sungai Kemuning. Bersama Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah maupun limbah secara sembarangan.
“Kami berharap melalui kolaborasi pemerintah, instansi terkait, RT/RW, dan masyarakat, kebersihan, kesehatan, serta kenyamanan warga tetap terjaga. Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah maupun limbah ke sungai dan bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan di sepanjang bantaran Sungai Kemuning,” pungkasnya.





