KALSELMAJU.COM, KANDANGAN – Kebarakan hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan memakan korban. 12 ekor bekantan hangus terbakar. Primata asal Kalimantan ini turut terbakar dalam karhutla di Desa Balimau, Kecamatan Kelumpang, Hulusungai Selatan (HSS) awal pekan tadi.
Setelah mendapatkan laporan, tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, langsung turun ke lapangan.
“Kami sangat prihatin. Duka menyelimuti keanekaragaman hayati,” kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna.
“Tim menemukan 12 ekor bekantan, 1 ular piton dan 1 king kobra dalam kondisi mati terbakar,” sambungnya.
Agus menjelaskan, kawasan yang menjadi habitat satwa tersebut merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) yang masih memiliki tutupan vegetasi.
Habitat itu terdiri dari tanah desa seluas sekitar 2-3 hektare dengan tutupan vegetasi berupa semak, galam, beringin, birik atau saga, serta halaban. Selain itu, terdapat tanah milik dengan luasan sekitar 2-3 hektare.
Kedua kawasan tersebut terfragmentasi oleh jalan aspal. Kebakaran diketahui terjadi di kawasan tanah milik.
Berdasarkan informasi kepala desa setempat, populasi bekantan di sekitar kawasan Balimau diperkirakan mencapai sekitar 60 individu.
Selain bekantan, terdapat pula lutung dan monyet ekor panjang yang mendiami kawasan tersebut.
“Kini kami melakukan sejumlah langkah penanganan untuk memastikan kondisi satwa yang masih berada di sekitar lokasi,” ucap Agus.
Translokasi
Langkah tersebut meliputi koordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait, memastikan jenis serta jumlah satwa yang mati, kemudian melakukan penguburan terhadap bangkai satwa.
Tim juga akan mengecek keberadaan satwa di lokasi. Jika ditemukan satwa dalam kondisi sakit atau membutuhkan pertolongan, akan dilakukan evakuasi.
BKSDA juga akan mengkaji kelayakan habitat.
“Apabila kondisi habitat tidak lagi mendukung keselamatan satwa, akakn mempertimbangkan tindakan translokasi,” ujar dia.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga habitat satwa liar sekaligus berencana menurunkan tim karhutla guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran susulan di kawasan tersebut.
Habitat satwa liar tidak hanya berada di kawasan hutan. Areal Penggunaan Lain (APL) yang masih memiliki tutupan vegetasi juga dapat menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa.





