KALSELMAJU.COM, RANTAU – Penjual kue tradisional bingka, Hj Ifah Fauzan, memilih tetap mempertahankan harga jual Rp40.000 per loyang meski harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan.
Ifah berjualan di kawasan Keraton, Rantau, Kabupaten Tapin. Keputusan mempertahankan harga karena khawatir minat pembeli menurun apabila harga naik.
“Rp40.000 sudah bertahun-tahun. Kalau naik, takutnya pembeli tidak minat,” ujar Ifah, Jumat (20/2/2026).
Meski demikian, ia mengaku masih dapat menutup biaya produksi karena perputaran penjualan berlangsung setiap hari.
Dalam sehari, Ifah mampu memproduksi lebih dari 100 bingka dengan lima varian rasa, yakni bingka kentang, telur, nyiur anum (kelapa muda), telur bakar, dan telur biasa.
Usaha bingka tersebut merupakan usaha keluarga yang telah berjalan secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.
Lapak bingka milik Ifah buka setiap hari mulai pukul 07.00 Wita hingga sore. Pembeli dapat datang langsung ke lokasi, meski layanan pemesanan juga tetap dilayani.
Memasuki bulan Ramadan, jumlah pesanan justru mengalami peningkatan meski tidak ada pasar wadai.
“Alhamdulillah, sebelum bulan puasa sudah banyak yang memesan lewat WhatsApp. Ada yang pesan 20 loyang, 15 loyang, bahkan kemarin ada yang pesan sampai 40 biji,” ungkapnya.
Menurut Ifah, pelanggan tidak hanya berasal dari Rantau, tetapi juga datang dari Kabupaten Banjar serta wilayah Hulu Sungai. Untuk pengambilan pesanan, mayoritas pembeli memilih datang langsung ke lapak.
Konsistensi harga dan cita rasa yang tetap terjaga membuat bingka tradisional produksi Hj Ifah Fauzan masih menjadi salah satu pilihan masyarakat sebagai menu berbuka puasa maupun hidangan keluarga selama Ramadan.





