Menjaga Harmoni antara Manusia, Tuhan, dan Alam

oleh

Fenomena alam yang belakangan ini mengguncang berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Sumatera. Kembali menyadarkan kita akan pentingnya menjaga hubungan yang harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam. Bencana alam seperti gempa bumi, banjir besar, dan tanah longsor di Sumatera bukan sekadar peristiwa alam semata. Tetapi juga mencerminkan ketidakseimbangan yang terjadi akibat eksploitasi alam yang berlebihan. Fenomena ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Terutama di Kalimantan Selatan, yang juga tidak terlepas dari ancaman bencana alam serupa. Di Kalimantan Selatan, kita mulai merasakan dampak ketidakseimbangan ini, seperti longsor di Banjarbaru-Batulicin dan kerusakan jalan di KM 171. Ketika bencana alam datang, dampaknya sering kali tidak hanya merusak fisik, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar. Jalan-jalan yang rusak dan longsor yang menutupi akses utama adalah tanda nyata. Bahwa kita telah mengabaikan tanggung jawab kita terhadap alam.

Bencana alam yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan Selatan mengingatkan kita pada hubungan yang semakin rapuh antara manusia, Tuhan, dan alam. Longsor di jalur Banjarbaru-Batulicin dan kerusakan jalan di KM 171 menunjukkan bahwa penyebab bencana ini bukan hanya oleh faktor alam semata, tetapi juga oleh ketidakseimbangan karena eksploitasi alam yang berlebihan. Alam, yang dulunya menjadi bagian dari kehidupan yang penuh berkah, kini sering dapat perlakuan semena-mena oleh manusia. Sebagai khalifah di bumi, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat alam, bukan hanya mengeksploitasinya demi keuntungan pribadi. Namun, dalam banyak kasus, manusia semakin terputus dari tanggung jawab tersebut, dan alam memberikan reaksi balik dalam bentuk bencana yang merugikan.

Seyyed Hossein Nasr, dalam bukunya Man and Nature, mengajarkan bahwa hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam sebagai hubungan yang saling menguntungkan dan saling mendukung. Alam bukan hanya sebuah objek ekploitasi, tetapi ciptaan Tuhan yang harus dihormati dan dilindungi. Nasr menekankan bahwa alam adalah manifestasi dari kehendak Tuhan, dan manusia, sebagai makhluk yang punya akal budi, memiliki peran sebagai khalifah di bumi untuk menjaga dan merawat alam. Kerusakan ekologis yang terjadi saat ini merupakan hasil dari krisis spiritual manusia, yang semakin kehilangan kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap alam.

Dalam konteks Kalimantan Selatan, tradisi urang Banjar merawat alam terwujud dalam praktik kearifan lokal seperti Seserahan Hutan, upacara syukur hasil hutan yang melarang aktivitas di hutan selama beberapa hari untuk pemulihan. Tradisi ini, yang merupakan upacara adat di Desa Paau, Aranio, Kab. Banjar, sebagai ungkapan syukur atas hasil hutan, diiringi dengan steril-steril hutan selama 7 hari agar alam pulih, dan diikuti dengan larangan masuk hutan bagi warga maupun tamu. Setelah melaksanakan ritual adat seserahan hutan, warga dilarang masuk ke dalam hutan selama tujuh hari. Sesuai aturan adat, hutan harus dikosongkan atau disterilkan. Jika ada hal mendesak, warga harus menunggu paling tidak tiga hari untuk bisa kembali masuk ke dalam hutan. Ritual ini mengajarkan pentingnya menjaga kesuburan alam dan menghormati waktu pemulihan alam.

Selain tradisi seserahan hutan, terdapat pula tradisi manugal di masyarakat Banjar, yang melibatkan menanam padi dengan kayu runcing beserta doa dan tabuhan musik tradisional. Tradisi ini mencerminkan harmoni yang mendalam antara manusia, Tuhan, dan alam. Dalam tradisi ini, manusia berperan sebagai khalifah yang tidak hanya bekerja keras untuk menghasilkan makanan, tetapi juga mengakui keterhubungannya dengan alam melalui doa dan rasa syukur kepada Tuhan. Proses menanam padi bukan hanya aktivitas fisik, tetapi sebuah ritual spiritual yang mengajak manusia untuk merenung, memohon keberkahan, dan menjaga hubungan dengan Tuhan.

Melalui tradisi ini, alam dalam bentuk padi yang akan tumbuh dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Tanah yang menjadi tempat menanam padi dihormati sebagai ciptaan Tuhan, dan manusia mengakui peranannya untuk merawat dan menjaga tanah agar tetap subur. Doa yang dipanjatkan selama proses menanam padi bukan hanya untuk keberhasilan panen, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan alam agar tetap memberikan hasil yang bermanfaat. Musik tradisional yang mengiringi proses ini memperkuat ikatan sosial dan silaturahmi antar sesama, yang menciptakan suasana gotong royong dalam merawat alam dan kehidupan.

Menjaga Harmoni dengan Cinta Alam

Tradisi ini mengajarkan bahwa kerja keras, keseimbangan, dan rasa syukur merupakan nilai-nilai yang harus terjaga dalam hubungan antara manusia dan alam. Manusia, sebagai makhluk yang punya akal dan kemampuan untuk bertindak, bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam dan tidak memanfaatkannya secara berlebihan. Sementara itu, alam, sebagai ciptaan Tuhan, harus dihormati, dirawat, dan dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi kehidupan. Dengan demikian, manugal tidak hanya menjadi tradisi pertanian, tetapi juga merupakan sebuah praktik spiritual yang mendalam yang mengingatkan kita akan harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam.

Filosofi dalam tradisi ini mengedepankan harmoni alam, menekankan hubungan timbal balik, di mana manusia harus menjaga alam karena alam memberi kehidupan, seperti dalam Seserahan Hutan. Gotong royong merupakan warisan nilai kebersamaan yang dmelalui kegiatan seperti Manugal, yang mempererat tali persaudaraan. Rasa syukur juga tercermin dalam tradisi-tradisi tersebut, yang mengungkapkan terima kasih atas limpahan rezeki alam. Keseimbangan hidup antara bekerja keras dan bersyukur juga tercermin dalam filosofi urang Banjar.

Pendidikan lingkungan yang menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga alam harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Alam adalah bagian dari tanggung jawab bersama, bukan hanya untuk kepentingan sesaat. Ketika pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem, kita hanya akan memanen kerusakan yang semakin parah. Pembangunan berkelanjutan, yang mengutamakan kelestarian alam, harus menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah dan masyarakat. Pembangunan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan, harus memperhatikan ekosistem agar tidak memperburuk kerusakan alam yang ada. Perlu memperkuat penegakan hukum terhadap praktik ilegal seperti illegal logging dan peraturan yang ketat terhadap pembukaan lahan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada alam.

Kalimantan Selatan, dengan segala kekayaan alamnya, sangat rentan terhadap bencana jika tidak menjaga hubungan antara manusia dan alam dengan baik. Peringatan dari alam dalam bentuk longsor dan kerusakan jalan. Harus menjadi momentum untuk kembali merenung dan memperbaiki cara kita berinteraksi dengan alam. Alam adalah ciptaan Tuhan yang harus kita jaga dan rawat. Ketika manusia merusak alam, kita juga merusak hubungan kita dengan Tuhan. Dengan mengembalikan keharmonisan antara manusia dan alam, serta menjaga keseimbangan ekosistem. Melalui pendidikan lingkungan, gotong royong, dan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan. Kita dapat mengurangi risiko bencana alam yang semakin sering terjadi. Alam bukanlah musuh yang harus dilawan, tetapi mitra yang harus dihargai dan dijaga. Ke depannya, kita perlu bekerja sama untuk menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup bersama yang lebih baik.

Bencana alam yang terus terjadi, baik di Sumatera maupun di wilayah lain, adalah peringatan keras bagi kita semua. Untuk kembali menjaga hubungan yang seimbang antara manusia, Tuhan, dan alam. Keseimbangan ekosistem yang terganggu akibat ulah manusia akan kembali pada kita dalam bentuk bencana yang merugikan. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan keharmonisan antara manusia dan alam. Dengan berpegang pada tanggung jawab bersama untuk menjaga kelestarian alam. Melalui pendidikan lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan semangat gotong royong. Kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan lestari bagi generasi mendatang. Kita sebagai umat manusia tidak hanya memiliki hak untuk menikmati alam. Tetapi juga tanggung jawab untuk merawatnya demi keberlangsungan hidup bersama.

Artikel Adalah Opini

Penulis : Khairunnisa, Dosen Prodi PGMI, pemerhati literasi, etika, dan kearifan lokal.

Tinggal di Kabupaten Banjar.

Visited 1 times, 1 visit(s) today